12.7 C
New York

Guru Belajar Foundation Raih UNESCO-Hamdan Prize for Teacher Development 2026

Published:

JAKARTA/PARIS, 6 Oktober 2026 — Collective Teacher Leadership Development Programme, inisiatif yang dikembangkan Guru Belajar Foundation, terpilih sebagai salah satu dari tiga penerima UNESCO-Hamdan Prize for Teacher Development 2026.

Penghargaan tersebut diumumkan dalam rangkaian World Teachers’ Day dan Award Ceremony UNESCO-Hamdan Prize for Teacher Development di Markas Besar UNESCO, Paris, Prancis, pada 5 Oktober 2026. Pengakuan ini membawa pendekatan kepemimpinan kolektif guru yang tumbuh dari Indonesia ke panggung global.

Sebelumnya, melalui tahapan nominasi, program Guru Belajar Foundation terpilih sebagai satu dari sepuluh finalis dari berbagai negara dalam edisi kesembilan penghargaan tersebut. Dalam profil finalis yang diterbitkan UNESCO , Collective Teacher Leadership Development Programme digambarkan sebagai pendekatan yang menempatkan guru sebagai pemimpin kolektif dalam ekosistem komunitas. Guru mengembangkan kapasitas untuk memperbaiki pembelajaran, menggerakkan rekan sejawat, dan mengorganisasi inisiatif di sekolah maupun komunitas. Profil tersebut mencatat keterlibatan 61.717 guru di 91 kabupaten dan kota di Indonesia.

Pengakuan terhadap Kepemimpinan yang Tumbuh dari Guru

Bagi Guru Belajar Foundation, penghargaan ini memperkuat pengakuan terhadap kepemimpinan yang tumbuh dari guru dan komunitasnya. Guru dapat mengambil peran perubahan melalui pembelajaran, refleksi, dan kerja bersama. Najelaa Shihab, Founder Guru Belajar Foundation, mengatakan bahwa pengakuan tersebut memperkuat keyakinan yang sejak awal mendasari kerja Guru Belajar Foundation bersama komunitas guru. “Penghargaan ini adalah pengakuan terhadap guru-guru yang terus belajar, menjalankan misi belajar, merefleksikan pengalaman, dan berbagi cerita perubahan.

Mereka bergerak bersama untuk memperbaiki pendidikan di lingkungannya. Sejak awal kami percaya bahwa guru dapat menjadi pemimpin perubahan ketika memiliki kemerdekaan, kompetensi, ruang berkolaborasi, dan kesempatan mengembangkan karier.” Melalui Teacher Leadership Program, Guru Belajar Foundation memfasilitasi tiga tahapan kontribusi guru: Guru Belajar, Guru Berdampak, dan Guru Berdaya.

Perjalanan ini ditopang empat prinsip pengembangan guru, yaitu Kemerdekaan, Kompetensi, Kolaborasi, dan Karier (4K). Teacher Leadership Program mencakup rekrutmen, kurikulum pendidikan kepemimpinan guru, misi belajar dan cerita perubahan, serta Temu Pendidik Nusantara (TPN). Dalam misi belajar, guru merancang dan mencoba tindakan untuk menjawab tantangan di kelas, sekolah, atau komunitasnya, lalu merefleksikan pengalaman tersebut. Cerita perubahan memperlihatkan tujuan, tantangan, tindakan yang dicoba, respons yang muncul, refleksi, serta perubahan yang teramati beserta bukti yang tersedia. Melalui cerita tersebut, guru dan rekan sejawat dapat memahami perjalanan perubahan dan belajar dari penyesuaiannya. Temu Pendidik Nusantara menjadi ruang untuk berbagi cerita perubahan, belajar bersama, dan membangun kolaborasi.

Dari Pengembangan Individu menuju Perubahan Ekosistem

Bukik Setiawan, Strategic Development Guru Belajar Foundation, melihat penghargaan ini sebagai validasi sekaligus tantangan bagi Guru Belajar Foundation untuk terus membuktikan bagaimana kepemimpinan guru dapat menghasilkan perubahan yang lebih luas.

“Yang sedang kami bangun adalah kepemimpinan kolektif guru. Melalui misi belajar dan cerita perubahan, guru merefleksikan apa yang mereka coba, apa yang berubah, dan apa yang perlu diperbaiki. Pengalaman itu menjadi bahan untuk saling belajar, saling menguatkan, dan bergerak bersama. Pengakuan UNESCO-Hamdan memperkuat kepercayaan terhadap pendekatan ini. Tugas kami berikutnya adalah memperkuat bukti perubahan di berbagai konteks.” Kepemimpinan kolektif guru juga dapat menjadi penggerak untuk menjawab isu pendidikan maupun isu lain yang relevan bagi sekolah, keluarga, dan komunitas. Guru Belajar Foundation merancang penerapannya bersama mitra sesuai visi, misi, dan kapasitas organisasi. Guru menjadi aktor utama, dengan ahli dan aktor lain sebagai pendukung. Penerapan pada isu baru dimulai dalam lingkup terbatas dan dievaluasi sebelum diperluas. Dalam 12 bulan mendatang , Guru Belajar Foundation juga merencanakan konsolidasi infrastruktur digital untuk mendukung perjalanan kepemimpinan guru, disertai penguatan fasilitasi, coaching, dan pendampingan yang berbasis konteks lokal.

Membawa Pengalaman Guru Indonesia ke Percakapan Global

Guru Belajar Foundation diwakili oleh Muhammad Luqman Hakim dalam seremoni penyerahan penghargaan di Markas Besar UNESCO di Paris. Bagi Luqman, berada di Paris bukan semata-mata mewakili organisasi, tetapi membawa pengalaman ribuan guru dan komunitas yang selama ini membentuk pendekatan tersebut. “Ketika nama Guru Belajar Foundation dan Indonesia disebut di UNESCO, yang terbayang bagi saya justru guru-guru di berbagai daerah yang selama ini belajar dan bergerak bersama komunitasnya. Penghargaan ini memperlihatkan bahwa praktik yang tumbuh dari pengalaman guru Indonesia dapat memiliki relevansi dalam percakapan global tentang pengembangan guru. Saya berharap pengakuan ini membuat semakin banyak pengalaman dan suara guru Indonesia dapat didengar dan dipelajari.”

Related articles

spot_img

Recent articles

spot_img