Jakarta, November 2025 – Kementerian Pemuda dan Olahraga bersama Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Hj. Himmatul Aliyah, S.Sos., M.Si., menggelar kegiatan Coaching Clinic: Pengembangan Pemain Sepak Bola Usia Muda (Youth Development) 2025 di Hotel BW Express Jakarta. Kegiatan ini menghadirkan peserta dari berbagai komunitas olahraga dan pembinaan pemuda di Jakarta.

Peserta Coaching Clinic: Pengembangan Pemain Sepak Bola Usia Muda (Youth Development) 2025
Ketua Sinergi Olahraga Jakarta, Eko Susanto, menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi bentuk sinergi positif antara pemerintah dan organisasi kepemudaan. Ia berharap para peserta mengikuti seluruh sesi dengan serius karena kegiatan ini memberikan wawasan teknis sekaligus pembinaan karakter dalam olahraga sepak bola.
Dalam sambutannya, Bu Himmatul Aliyah menegaskan bahwa sepak bola tidak hanya dipandang sebagai cabang olahraga semata, tetapi sebagai sarana pembentukan mental, kedisiplinan, dan nilai perjuangan bagi generasi muda. “Sepak bola adalah instrumen strategis untuk membangun karakter bangsa. Ini sejalan dengan visi pembangunan manusia unggul menuju Indonesia Emas 2045,” ungkapnya.
Bu Himma turut membagikan pengalaman pribadinya sebagai mantan atlet softball. Ia menekankan bahwa pengalaman berlatih, disiplin, dan bertanding telah membentuk cara berpikir dan karakter yang kuat dalam menjalani tugasnya hingga kini menjadi anggota DPR RI. Menurutnya, atlet yang terbiasa berproses akan memiliki daya tahan mental yang baik dalam menghadapi tantangan hidup.
Ia juga menyampaikan bahwa pelatih memiliki peran fundamental dalam pembinaan atlet. Pelatih bukan hanya mengajarkan teknik permainan, tetapi membentuk akhlak, sikap, dan kemampuan bersosialisasi pemain. “Pelatih yang baik akan melahirkan pemain yang tidak hanya tangguh di lapangan, tetapi juga berkarakter di kehidupan sehari-hari,” ujar Bu Himma.
Pada sesi materi pertama, hadir Peri Sandria, mantan pemain Timnas Indonesia periode 1989–1997, yang memberikan materi mengenai teknik dasar sepak bola. Ia menjelaskan bahwa fondasi bermain sepak bola tidak bisa dilewatkan, meliputi kemampuan menggiring bola, mengontrol bola, menendang, sundulan, hingga lemparan ke dalam. Menurutnya, pemain yang menguasai teknik dasar akan mampu berkembang lebih jauh sesuai kebutuhan kompetisi.
Peri Sandria juga mengingatkan pentingnya kedisiplinan dalam latihan. Ia menekankan bahwa jam terbang dan konsistensi adalah kunci pembentukan kualitas pemain. “Tidak ada pemain hebat yang lahir dari proses instan. Semua melalui latihan yang panjang,” tegasnya.
Sesi berikutnya disampaikan oleh Coach Bagas Novan, Pelatih Atlet PBOP DKI Jakarta sekaligus Founder SSB Pemuda Jaya. Ia membawakan materi mengenai specific conditioning, yaitu pembentukan kekuatan fisik, daya tahan, dan kesiapan tubuh pemain. Menurutnya, usia produktif pemain hanya sampai sekitar 32 tahun, sehingga pembinaan fisik harus dirancang sejak dini.
Coach Bagas juga menjelaskan beberapa kondisi cedera yang umum terjadi pada pemain, seperti kram, hamstring, hingga cedera otot lain, serta langkah-langkah penanganan awal. Ia menegaskan bahwa pemain yang memiliki fisik kuat akan mampu bertahan selama 45 menit x 2 babak tanpa kehilangan fokus maupun stamina.
Melalui penyelenggaraan Coaching Clinic ini, Bu Himmatul Aliyah menyampaikan harapannya agar Jakarta dapat menjadi salah satu pusat lahirnya pemain sepak bola unggulan Indonesia. Ia menutup kegiatan dengan pesan agar peserta terus belajar, disiplin, tegas terhadap tujuan, dan tidak mudah menyerah. “Prestasi lahir dari proses, karakter lahir dari ketekunan, mudah – mudahan Indonesia bisa masuk piala dunia nantinya” tutupnya.


