20.1 C
New York

Metamorphosa: Mozaik Cinta, Teater yang Mengajak Memaknai Cinta sebagai Jalan Transformasi

Published:

BanyakBaca.id — Jepara, Teater eL Na’ma dari Yayasan eL Na’ma Indonesia menghadirkan pertunjukan “Metamorphosa: Mozaik Cinta” di Aula Serbaguna M.A. Hasyim Asy’ari, Bangsri, Jepara, Jawa Tengah, pada 19 September 2026.

foto: Teater eL Na’ma

Pertunjukan ini mengajak penonton melihat cinta dari perspektif yang lebih luas. Cinta tidak hanya dimaknai sebagai hubungan romantis antara dua manusia, tetapi juga sebagai pengalaman yang menghadirkan kedekatan, pengorbanan, kasih, dan keteguhan. Di sisi lain, cinta juga dapat membawa manusia pada kehilangan, keterikatan, fanatisme, hingga penderitaan ketika perasaan tidak lagi berjalan seimbang dengan akal.

Mengusung konsep mozaik, “Metamorphosa: Mozaik Cinta” merangkai berbagai kepingan pengalaman manusia, mulai dari pertemuan, kebahagiaan, pengorbanan, luka, kehilangan, keterikatan, hingga pelepasan. Setiap pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan yang perlahan mengubah cara manusia memahami dirinya, orang lain, dan kehidupan.

Dalam pertunjukan ini, cinta tidak diarahkan sebagai keinginan untuk memiliki atau menguasai. Sebaliknya, cinta dipandang sebagai kemampuan untuk memahami, menerima, serta memberikan ruang bagi kebebasan.

Cinta sebagai Proses Perubahan

foto: Teater eL Na’ma

Kata “metamorphosa” menjadi gagasan utama dalam pertunjukan ini. Perubahan manusia tidak selalu lahir dari keadaan yang mudah, tetapi juga melalui pengalaman menghadapi luka dan kehilangan.

Keterikatan perlahan dapat bergerak menuju kebebasan, sementara cinta yang awalnya hadir sebagai perasaan berkembang menjadi sebuah kesadaran. Pengalaman mencintai kemudian ditempatkan sebagai salah satu jalan menuju penerimaan dan pertumbuhan spiritual.

Gagasan tersebut dibangun melalui kolaborasi empat orang dengan latar pengalaman berbeda, yakni Lailatin Na’ma sebagai produser sekaligus direktur artistik, M. Ramdhani sebagai kolaborator dan music designer, M.J. Haeckal pada bidang visual dan videografi, serta Tio Zulfan Amri sebagai kolaborator lecturer sekaligus researcher.

Kolaborasi tersebut mempertemukan berbagai unsur, mulai dari produksi, artistik, musik, visual, hingga riset dan pemikiran dalam satu proses penciptaan.

Berangkat dari Eksplorasi dan Riset

foto: Teater eL Na’ma

“Metamorphosa: Mozaik Cinta” tidak hanya lahir dari proses latihan panggung. Sebelum pertunjukan, rangkaian kegiatan diawali dengan Diskusi Budaya “Menafsirkan Cinta sebagai Jalan Transformasi Diri dan Budaya.”

Forum tersebut mempertemukan tokoh agama, akademisi, dan pelaku seni. Kyai Akhid Turmuzi hadir sebagai tokoh agama, Yushinta Eka sebagai akademisi, dan Lailatin Na’ma sebagai pelaku seni sekaligus pendiri dan Ketua Harian Yayasan eL Na’ma Indonesia. Diskusi dibuka oleh pimpinan pondok pesantren sekaligus Kepala Sekolah M.A. Hasyim Asy’ari, K.H. Zainal Umam, Lc., MM.

Diskusi tersebut menjadi ruang untuk melihat cinta tidak hanya sebagai tema artistik, tetapi juga sebagai daya transformatif yang berkaitan dengan persoalan spiritual dan krisis nilai dalam masyarakat modern.

Pertunjukan kemudian menjadi ruang pengalaman yang melengkapi proses pemikiran tersebut. Jika diskusi memberikan ruang untuk membaca dan menafsirkan gagasan, panggung menghadirkannya melalui pengalaman tubuh, visual, suara, dan emosi.

Dari “Mahabbah” Menuju Transformasi

Dalam proses penciptaannya, “Metamorphosa: Mozaik Cinta” dibangun melalui eksplorasi dan kolaborasi. Naskah tidak ditentukan sejak awal, melainkan dikembangkan secara kolektif dengan mengeksplorasi tubuh, suara, teks, musik, objek, cahaya, dan ruang.

Fragmen-fragmen pertunjukan kemudian disusun melalui hubungan visual, bunyi, gerak, dan gagasan sehingga membentuk satu kesatuan mozaik perjalanan tentang cinta.

Gagasan cinta dalam pertunjukan ini juga terinspirasi dari konsep “Mahabbah” dalam pemikiran tokoh sufi perempuan Rabi’ah al-Adawiyah, yang memandang cinta bukan semata-mata sebagai keterikatan, melainkan sebagai jalan menuju kedekatan kepada Tuhan.

Melalui pendekatan tersebut, “Metamorphosa: Mozaik Cinta” menghadirkan cinta sebagai salah satu kekuatan universal yang dapat menggerakkan perubahan spiritual maupun sosial.

Pada akhirnya, pertunjukan ini tidak hanya berbicara tentang bagaimana manusia mencintai orang lain, tetapi juga tentang bagaimana pengalaman mencintai dapat mengubah manusia itu sendiri—dari keterikatan menuju penerimaan, dari perasaan menuju kesadaran, dan dari transformasi diri menuju kemungkinan transformasi sosial dan spiritual.

Related articles

spot_img

Recent articles

spot_img