BanyakBaca.id – Paling engga enak menunggu. Apalagi yang ditunggu cuma bang awal. Biar lebaran udah tiga Minggu. Di Betawi, lebaran ampe abis bulan Syawal. Barangkali itulah pantun yang pas untuk Lebaran Betawi 2026 kali ini.
Dari gegap gempita dan meriahnya acara lebaran Betawi, banyak orang menganggap yang paling tidak meriah adalah dongeng rakyat Betawi. Sebab, siapa yang mau mendengarkan dongeng di jaman ini? Karena semua orang semakin pintar dan semakin rasional, bahkan yang tidak rasional bisa dirasionalisasi.
Tetapi berbanding terbalik, justru dongeng Betawi terlihat mendapatkan perhatian khusus dari para pengunjung yang tampil pada Minggu, 12 April 2026 sore. Biarpun tampil di halaman spot Rumah Gubernur, bukan di panggung utama Lapangan Banteng. Pertunjukan dongeng rakyat yang disuguhkan oleh Sanggar Bintang Timur pimpinan Abdul Aziz terlihat berbeda dari biasanya karena selain ia mendongeng, tetapi juga memvisualisasikan imaji yang terkandung dalam dongeng.
“Inilah manakib Hadji Godjalih”, begitu kata Aziz dalam pengantarnya sebelum mementaskan dongeng rakyat Betawi. Hadji Godjalih yang diceritakannya merupakan satu sosok bersejarah yang berpengaruh dalam masyarakat Betawi khususnya di Petukangan atau dalam peta masa kolonial masuk kawasan Kebayoran. Aziz menjelaskan dalam manakibnya kalau Hadji Godjalih bukan sekedar ahli silat semata tetapi sekaligus wali mastur atau wali yang tersembunyi.
Pertunjukan dongeng rakyat itu selain mendapatkan antusias dari penonton juga mendapat perhatian penuh dari tokoh Betawi muda yakni Dr. Abdul Aziz Kafia. Setelah dongeng rakyat diamatinya, Aziz Kafia berkomentar soal karya Manakib Hadji Godjalih yang ditampilkan. Komentar itu terutama pada sosoknya, Hadji Godjalih, yang sependapat bahwa bisa jadi Hadji Godjalih ini adalah wali karena ilmunya yang masih dipelajari orang sampai sekarang yakni ilmu bela diri Silat Beksi sejak abad ke-19. Artinya telah berlalu satu abad dan telah memasuki dua abad.
Iringan rebana sebagai musik perkusi memang terdengar menggebu dan siapa sangka membawa emosional kepada para penampilnya terlepas dari skenario adegan. Klimaks emosional itu terjadi ketika diceburkannya salah satu aktor lawan silat ke kolam yang ada di lapangan banteng pada saat kalah beradu jurus. Momen ini begitu mengejutkan hingga media CNN Indonesia meliputnya dalam bagian program siaran langsungnya.
Kalau budaya dipandang bernilai dan bermakna filosofis, maka penampilan dongeng rakyat sebagai penutup acara yang ditampilkan dihadapan manusia post modern di ibukota Indonesia adalah cermin karakter bangsa Indonesia yang masih menjunjung tinggi moralitas meskipun dihantam gelombang berbagai aliran pemikiran global yang ilmiah, materialis, dan semakin rasional. Antusias dan perhatian ratusan penonton adalah indikatornya.
Dongeng, sohibul hikayat, atau buleng (dua disebut terakhir khas tradisi lisan Betawi) mungkin kelihatan remeh dan tidak ilmiah, tetapi dibalik keremehan itu tersingkap mutiara (pesan cinta) yang jauh lebih bernilai dan sejati. Maksudnya adalah dibalik suatu dongeng ada nilai tentang mempertahankan kewarasan yang paling inti dan usaha paling mulia di tengah zaman yang semakin edan sebagaimana ramalan Pujangga Ronggowarsito dalam karyanya Jongko Joyoboyo. Melalui pengingat ini, di jaman ini, kita jangan sampai tertukar muslihat dunia di mana ketika orang yang jujur malah hancur lebur tetapi yang curang menjadi mulia. Selamat lebaran orang Betawi.
Catatan Pinggir Si Murid (Muhamad Rido)


