BanyakBaca.id – Fenomena meningkatnya keterlibatan Generasi Z dalam kegiatan kerelawanan menjadi sorotan dalam beberapa tahun terakhir. Di tengah maraknya aktivitas sosial, muncul pertanyaan mendasar: apakah partisipasi ini didorong oleh kesadaran sosial yang kuat, atau sekadar mengikuti tren yang berkembang di kalangan anak muda.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik melalui Sensus Penduduk 2020, jumlah Generasi Z di Indonesia mencapai sekitar 74,93 juta jiwa atau hampir 28% dari total populasi. Artinya, satu dari tiga orang di Indonesia merupakan bagian dari Gen Z yang saat ini memiliki peran besar dalam menentukan arah partisipasi sosial di masyarakat.
Fenomena ini juga disorot oleh IAP2 Indonesia yang melihat bahwa keterlibatan Gen Z banyak terjadi melalui kegiatan sosial berbasis event dan kampanye digital. Karakteristik partisipasi ini cenderung cepat, fleksibel, dan mudah diakses, sehingga menarik minat anak muda untuk terlibat tanpa harus melalui proses yang panjang.
Sementara itu, platform Indorelawan mencatat bahwa banyak anak muda memulai aktivitas kerelawanan dari alasan yang sederhana. Beberapa di antaranya adalah ajakan teman, pengaruh tren di media sosial, hingga keinginan untuk mencari pengalaman baru.
Namun, jika ditelaah lebih dalam, partisipasi tersebut tidak berhenti pada tahap awal. Mengacu pada kerangka partisipasi dari International Association for Public Participation, keterlibatan individu dalam kegiatan sosial memiliki tahapan perkembangan, mulai dari sekadar ikut berpartisipasi, kemudian terlibat secara aktif, hingga akhirnya mencapai tahap berdaya dan memiliki dampak nyata.
Temuan ini juga diperkuat oleh riset Litbang Kompas yang menunjukkan bahwa kesadaran sosial Generasi Z terus mengalami peningkatan. Isu-isu seperti lingkungan, kesehatan mental, dan keadilan sosial menjadi perhatian utama yang mendorong mereka untuk terlibat lebih dalam dalam aktivitas sosial.
Dengan demikian, fenomena relawan Gen Z tidak bisa dipandang secara sederhana sebagai tren semata. Meskipun tren dapat menjadi pintu masuk bagi keterlibatan, keberlanjutan partisipasi sangat ditentukan oleh tingkat kesadaran individu itu sendiri.
Muhammad Rizky selaku Ketua Relawan Vorizma menegaskan bahwa dampak dari sebuah gerakan sosial tidak diukur dari seberapa banyak orang yang terlibat dalam waktu singkat, melainkan dari konsistensi kontribusi yang diberikan. Ia menekankan bahwa di titik inilah peran Generasi Z benar-benar diuji, apakah hanya hadir sebagai bagian dari tren sesaat atau kesadaran yang berkelanjutan.


