Jakarta – Tahun 2025 menjadi momentum bersejarah bagi Teater eL Na’ma. Komunitas yang berdiri pada 20 Juni 2000 ini resmi memasuki usia 25 tahun dengan mengusung tajuk besar “Seperempat Abad Teater eL Na’ma: Intensitas dengan Dedikasi Karya.”
Perjalanan seperempat abad dinilai bukan sekadar usia, melainkan proses panjang yang ditempa oleh konsistensi, keberanian, dan kesetiaan pada dunia seni. Selama dua dekade lebih, Teater eL Na’ma berkembang tidak hanya sebagai kelompok pertunjukan, tetapi juga ruang belajar bersama, wadah pengabdian, dan jalan pencarian makna hidup melalui seni.
Bagi komunitas ini, teater diyakini sebagai bahasa kemanusiaan. Karya yang mereka hadirkan tidak sekadar hiburan, melainkan juga kritik sosial, refleksi batin, dan bentuk pengabdian untuk memperkaya kehidupan.
Rangkaian Acara Seperempat Abad
Perayaan ulang tahun ke-25 dimulai sejak Mei 2025 melalui berbagai kegiatan reflektif. Salah satunya Workshop Penulisan Naskah pada 12–13 Mei 2025 bertema “Penulisan dan Tafsir Ulang Terhadap Naskah” menghadirkan Ibed S. Yuga. Melalui kegiatan ini, peserta diajak menggali kedalaman teks serta menemukan tafsir baru di balik sebuah naskah.
Berlanjut pada Juni 2025, Teater eL Na’ma menggelar Lomba Monolog dan Dramatik Reading secara daring. Peserta diminta menafsirkan ulang lima naskah dari antologi “Gue Sama Tuhan” karya almarhum Achmad “Echo” Chotib, pendiri komunitas. Ajang tersebut tidak hanya menguji keterampilan teknis, tetapi juga mengajak peserta menyelami pesan spiritual dan sosial karya sang pendiri.
Puncak perayaan jatuh pada 23–24 Juni 2025 lewat pertunjukan akbar “Metamorphosa” di Gelanggang Jakarta Selatan, Bulungan. Pentas ini menjadi refleksi perjalanan, manifestasi karya, sekaligus persembahan dedikasi Teater eL Na’ma kepada publik seni.
“Metamorphosa”: Kritik dan Cinta Ilahi
Pertunjukan Metamorphosa menjadi sorotan utama dalam rangkaian seperempat abad. Karya ini terinspirasi dari cinta sufistik Rabiah Al Adawiyyah yang menekankan cinta tulus kepada Tuhan tanpa pamrih.
Lewat narasi puitis sekaligus kritis, Metamorphosa menyoroti kegelisahan manusia modern yang kerap kehilangan akar spiritual. Kritik dilontarkan terhadap praktik keagamaan yang terjebak dalam formalitas, iman yang tergelincir menjadi transaksi, hingga Tuhan yang kerap dijadikan legitimasi kuasa.
Tokoh-tokoh dalam pertunjukan digambarkan menjalani perjalanan batin dari kepatuhan normatif menuju penghayatan esensial, hingga mencapai cinta sejati: mencintai Tuhan bukan karena takut hukuman atau mengharap imbalan, melainkan karena Tuhan layak dicintai.
Konsep Artistik Lintas Media
Metamorphosa disajikan sebagai karya work in progress dengan eksplorasi lintas media. Pertunjukan memadukan lecture performance, musik performatif, audio immersive, videografi, projection mapping, hingga akting intens. Semua elemen lahir dari riset pustaka, diskusi, observasi, dan refleksi personal para aktor.
Kolaborasi lintas disiplin turut memperkuat dimensi artistik. Beberapa nama terlibat antara lain M.J. Haeckal (Multimedia Support), M. Ramdhani (Music Composer), Tio Zulfan Amri (Lecturer, Researcher, Aktor), serta Lailatin Na’ma (Aktor sekaligus Sutradara). Dukungan juga datang dari anggota Teater eL Na’ma dan mahasiswa PBSI UIN Jakarta yang bergabung sebagai peserta magang.
Dedikasi dan Masa Depan
Seperempat abad perjalanan Teater eL Na’ma membuktikan konsistensi komunitas ini dalam melahirkan karya yang artistik sekaligus reflektif. Seni diposisikan bukan hanya sebagai hiburan, tetapi sebagai ruang dialog, kritik, dan pengabdian yang memuliakan manusia serta kehidupan.
Dengan karya Metamorphosa, Teater eL Na’ma menegaskan bahwa teater adalah medium untuk menyampaikan manifesto cinta—cinta yang mampu mentransformasi manusia, menghidupkan spiritualitas, dan menjaga keseimbangan di tengah kehidupan modern.


